Showing posts with label Kontan BISNIS. Show all posts
Showing posts with label Kontan BISNIS. Show all posts

Website Optimisation Techniques

Friday, June 20, 2008      0 komentar

As well as link building and on-page optimisation, there are some other very important SEO factors which can help your website index and rank in search engine listings. The following techniques are grouped into the category named 'website optimisation' and should not be overlooked when preparing an SEO campaign.

Domain Age and Expiration Date

Google and other search engines include many factors within their ranking system. One of these factors is trust rank. Owning a domain that has history improves the trust rank as does registering the domain for a long period of time.

Website History

Again trust rank comes into play here. If your website has been archived in the search engine results for a long period then it will help improve rankings and indexing of webpages created in comparison with a fairly new website with no history.

Structured Navigation

When creating a website, it is important to provide a well structured navigation, not just for users but also to allow search engine bots to follow links and index webpages within your website. Structuring your navigation correctly can help all you webpages be indexed and should help the flow of Google's PageRank spread through out the website.

Valid HTML

As with structured navigation, the importance of valid HTML to search engine bots is to allow all webpages within your website to be indexed within the search engine listings. Validating your HTML will ensure that the bots do not hit any 'brick walls' within the code that prevent them from reading the rest of the webpage.

Contextual Linking

To further help the indexing of your webpages and to even out the flow of Google's PageRank, it is useful to include links within the content text of your webpages. Wikipedia is a perfect example of how this should be done.

URL Structure Including keywords in your website's URLs will help you rank for those terms. If your website uses dynamic URLs created through variables then think about rewriting them. Separate keywords using a minus character (eg. search-phrase.html) and try and keep the important keywords as close to the beginning of the URL as possible.

Regional Targeting

If you wish to target a certain region then there are a few steps you can take to help this process. Firstly you can choose a relevant domain such as a .co.uk (UK) or .de (Germany) rather than a generic .com domain. Then look at your hosting IP location, search engines can access this information and will use it to decide your target audience. Finally, Google Webmaster Tools allows you to set a geographic target which is useful if you have a .com domain.

Site Maps

Search engine bots look for site maps when they visit your website. Providing a standard HTML site map will help improve the indexing of your webpages and allow bots to find webpages that they might otherwise have missed. You can now also provide and submit an XML site map which all the major search engines have took on as a standard. Use your robots.txt to tell bots where to find your XML site map and also submit it to Google Webmaster Tools and Yahoo Site Explorer.

Domain Name

If you are purchasing a domain name for a new website then think about including your main targeted keywords within that domain name. For example if you are building an online store that sells low price golf clubs in the UK and you buy the domain cheapgolfclubs.co.uk then you are definitely going to have a lot more of a chance for quickly ranking well for the search term 'cheap golf clubs' in UK search engines than you would with a more generic domain name. You would also do well for long tail search terms such as 'cheap golf clubs in the UK' and have more chance of ranking for 'golf clubs' in the long term.

Lanjut membaca “Website Optimisation Techniques”  »»

Bisnis Raksasa dari Mereka yang Inging Awet Muda

Wednesday, June 11, 2008      0 komentar

Setelah kosmetik proteksi dan pemutih, porsi kosmetik anti-penuaan kian membesar

Persaingan produsen kosmetik anti-penuaan semakin sengit. Mereka beradu ramuan dan bintang iklan untuk merangkul pasar. Maklum saja, pasar di Indonesia untuk kosmetik yang bikin awet muda ini terus berkembang.

Seperti produk toiletries lain, kosmetik menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup banyak orang. Lebih lagi, untuk produk seperti ini, biasanya pelanggan sangat loyal pada merek tertentu. Jadi, jangan heran jika memikat pelanggan pada peluncuran produk.

Di pasar, kita bisa melihat ratusan produsen produk kosmetik dengan puluhan ribu produk yang mereka tawarkan. Maklum, Indonesia merupakan pasar potensial untuk produk-produk rias dan dandan ini. Penduduk yang mencapai 240 juta jiwa sudah menjadi daya pikat. Belum lagi pertumbuhan bisnis koametik di sini.

Data Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia (Perkosmi) menyebut, pertumbuhan pasar kosmetik di Indonesia antara 15% sampai 20% tiap tahun. Perkosmi memperkirakan, pada tahun 2008 ini, omzet pasar kosmetika akan tumbuh sekitar 20%. Jadi nilainya sekitar Rp 22 triliun.

Dalam laporan bisnis strategis international tahun 2007 yang di kutip Boy Bayu, GM Penjualan dan Pemasaran PT Ristra Indolab, untuk masa mendatang, ada tiga produk kosmetik yang menjadi tren dunia. Tiga jenis produk ini adalah proteksi (protection), anti penuaan (antiaging), dan pemutih(whitening).

Bukan tanpa alasan jika pasar menyukai tiga jenis kosmetik tersebut. Selain karena definisi kecantikan yang hampir disepakati di seluruh dunia, yakni berkulit putih, bebas kerutan, ada pula sederet penyebab lain. Misalnya, kualitas udara yang semakin buruk."Itu karena meningkatnya polusi udara, matahari semakin terik, dan kian banyak radikal bebas di udara, kata Boy. Hal-hal tadi terbukti memvawa dampak buruk bagi kulit.

Jangan heran kalau sudah jadi tren di setiap negara bahwa penduduknya menggemari tiga jenis kosmetik tadi. Masyarakat di negara-negara tetangga sudah sejak lima tahun yang lalu memperhatikan produk anti-penuaan. Adapun di negara kita, produk anti-penuaan baru berkembang selama dua tahun terakhir.

Meski produknya masih terbilang baru, toh pasar kosmetik anti-penuaan berkembang cepat. Tidak heran. Wanita mana yang tidak tergiur pada janji awet muda tanpa kerutan di wajah. Maka "Pada tahun 2005 ke 2006, pertumbuhan pasar produk anti-penuaan di Indonesia mencapai 200%" ujar Ira Noviarti, Manajer Pemasaran Skin Care Unilever Indonesia. Pertumbuhan luar biasa itu terjadi karena waktu itu kosmetik anti-penuaan merupakan produk baru di Indonesia.

Sedangkan dari tahun 2006 ke 2007, pasar produk anti-penuaan hanya tumbuh sebesar 70%. "tahun ini diperkirakan pertumbuhannya sekitar 20% sampai 25%. Jadi, potensi pertumbuhannya masih besar. Pasarnya masih terbuka lebar," lanjut Ira.

Dua dekade lagi

Seia sekata dengan pernyataan itu, Bambang Sumaryanto, Direktur Hubungan Eksaternal P&G, bilang bahwa selama tahun 2008 produk anti-penuaan akan tetap tumbuh walau mengalami perlambatan. Bambang lalu mengutip data pasar di daerah perkotaan, tahun 2007 rata-rata konsumsi bulanan produk anti-penuaan tumbuh 16%. "Sampai pada April 2008 ini, rata-rata konsumsi bulanan baru tumbuh 6%," ujarnya.

Walau begitu, Ira sendiri yakin bahwa produk anti-penuaan akan tetap laku antara 10 tahun hingga 20 tahun mendatang.

Pendapat Ira ini diamini semua produsen kosmetik yang menjajal peruntungannya di Indonesia. Berlomba mereka memasuki pasar Indonesia yang potensial dengan jumlah penduduknya. Tak ayal, persaingan antar-produsen semakin sengit.

Misalnya saja L'Oreal. Kosmetik asal Prancis ini sampai mendirikan pabrik di Jepang untuk menyasar pangsa pasar Asia. Baru-baru ini, L'Oreal mengeluarkan produk anti-penuaan terbaru."Kosmetik anti-penuaan tetap menjadi fokus kami sampai tahun 2009 dengan target penjualan 1,5 kali dari pertumbuhan pasar sekarang," kata Invianto Soebiantoro, GM Luxury Products PT L'Oreal Indonesia.

Begitu pula Oriflame. Perusahaan kosmetik asal Swedia yang sudah 21 tahun bersaing di Indonesia ini juga menggenjot produk anti-penuaan. Bulan lalu, Oriflame menawarkan Lift Expert, produk anti-penuaan untuk wanita usia 40 tahun ke atas. "Penjualannya selama ini sangat bagus karena banyak editor majalah ternama rekomendasikan produk ini,"ujar Anastasia Nugroho, Manajer Beauty Training Oriflame.

Dengan dibantu lebih dari 200.000 penjual langsung (direct selling), Oriflame mengaku telah mencapai kenaikan lpenjualan sampai 50% pada Mei 2008 lalu. "Target kami adalah menjadi nomor satu dalam industri kosmetik," imbuh Ted Boman, Direktur Pengelola Oriflame. Sayang, ia enggan menyebutkan omzet penjualan produk mereka.

Kalah dengan Pemutih

Nah, di tengah persaingan yang ketat di antara produsen kosmetik di pasar produk anti-penuaan tersebut, hanya segelintir produk lokal yang bisa ikut berebut pasar. Sebut saja Ristra di bawah naungan PT Ristra Indolab. Sejak tahun lalu, Ristra mulai memasuki pasar kosmetik premier dengan merek Platinum. Seri kosmetik ini mengandalkan ramuan anti-penuaan. "Pertumbuhan penjualannya sangat bagus," ujar Roy Bayu, GM Penjualan dan Pemasaran PT Ristra Indolab.

Boy yakin produk Platinum masih bisa diterima pasar. Pasalnya, menurut Boy, pusat kecantikan Ristra mengalami lonjakan pasien dengan keluhan penuaan dini, sampai 20%. Selain itu, "Belum banyak produk lokal yang berani masuk ke pasar ini karena terhambat teknologi," bebernya.

Hanya saja, walau pertumbuhannya lumayan tinggi, kontribusi produk anti-penuaan belumlah sebesar produk pemutih kulit. Misalkan saja di Ristra, penjualan Platinum belum semanis produk lainnya. "Mungkin karena baru saja diluncurkan,"kilah Boy.

Sedangkan untuk Pond's, "Produk paling larus masih produk whitening,"imbuh Ira.


Beradu Ramuan di Pasar Modern

Pasar kosmetik anti penuaan di Indonesia telah memikat banyak produsen. Maklum saja, jumalah penduduk sebanyak 240 juta menjadi daya taik utama mereka. Belum lagi beragam kondisi alam yang dipercaya melunturkan tanda kemudaan di kulit. Boy Bayu, GM Penjualan dan PLemasaran PT Ristra Indolab, mengatakan bahwa pasien dengan keluahan lpenuaan dini di pusat kecantikan Ristra meningkat 20% saban tahun.

Produsen memang dengan senang hati menggarap pasar ini. Namun, mereka juga meletakkan label harga yang relatif lebih tinggi untuk produk anti penuaan ini. Maklum, mereka membidik pasar yang lebih mapan ketimbang produk pemutih, misalnya.

Oriflame, misalnya, mempunyai beberapa produk anti-penuaan. Antara lain Skindividual untuk mengatasi tanda awal penuaan, lalu ada Lift Expert untuk mengencangkan kulit, dan Ecollagen untuk mengurangi keriput. Harga produknya berkisar dari Rp 79.000 sampai Rp 249.000.

Ada juga produk P&G dengan merek Olay TE yang harganya antara Rp 25.000 sampai Rp 100.000. Lalu apa kelebihan produk nini? "Olay TE+ adalah produk pelembab kulit pertama yang mampu mengurangi tujuh tanda penuaan kulit sekaligus," ujar Bambang Sumaryanto.

Pesaing terdekat Olay, yakni Pond's keluaran Unilever, tidak mau ketinggalan. Bulan Mei 2008 lalu, Pond's sengaja merilis ulang produk Age Miracle-nya dengan kemasan dan formula baru. "Harganya masih tetap sama walau harga BBM naik," ucap Ira Noviarti, Manager Pemasaran Skin CXare Unilever Unilever Indonesia. Seri rangkaian Pond's Age Miracle sendiri dijual dengan harga Rp 25.000 sampai Rp 135.000 per unit.

Nah, pemain lokal Ristra Indolab mengikuti jejak produsen asing. Dalam waktu dekat, menurut Boy, Ristra akan meluncurkan produk anti-penuaan yang baru. Namun, sampai kini, dia masih bertahan dengan varian Platinum. Ristra membanderol produk platinum dengan label antara Rp 100.000 sampai Rp 120.000


Lanjut membaca “Bisnis Raksasa dari Mereka yang Inging Awet Muda”  »»

Melongo Gara-Gara PE CPO

Sunday, June 8, 2008      0 komentar

Akankah defisit neraca perdagangan berlangsung lama?

Badan Pusat Statistik mencatat angka penurunan ekspor yang cukup besar selama April 2008. Sebaliknya, angka impor meningkat tajam. Alhasil, neraca perdagangan Indonesia pun jadi negatif. Sampai kapan kondisi ini bertahan?

Kabar buruk tampaknya enggan beranjak dari dompet negara kita ini. Setelah menanggung beban subsidi bahan bakar minyak yang besar, ada hal lain yang bikin dompet kian bolong. Pekan ini, Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan data yang cukup pahit. Nilai ekspor Indonesia pada bulan April 2008 lalu, ternyata turun 7,78% dibandingkan dengan pencapaian bulan sebelumnya.

Selama bulan Maret 2008, pengusaha kita membukukan ekspor hanya US$ 10,97 miliar. Ironisnya, pada bulan yang sama Indonesia mengimpor barang senilai US$11,5 miliar.

Artinya: neraca perdagangan April 2008 negatif. Rapor buruk ini jelas merupakan tamparan yang keras buat pemerintahan SBY-JK. Sebab, biasanya neraca perdagangan kita positif, tapi kali ini kok jadi negatif.

Rustam Heriawan, Kepala BPS, mengatakan bahwa penurunan ekspor nonmigas yang cukup tajam itu disebabkan oleh anjloknya ekspor minyak kelapa sawit atau CPO. "Ekspor CPO turun 62,9% (1,13 juta ton) dibanding dengan bulan sebelumnya," ujar Rustam.

Lebih lanjut, Rustam menduga, pengusaha CPO enggan mengekspor karena ada kenaikan pajak ekspor CPO yang cukup besar. "Pada Maret itu pajak ekspor CPO masih 10%. Bulan April naik menjadi 20%," tutur dia.

Hal tersebut diamini oleh Susanto, Direktur Pemasaran Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki). "Bulan April memang banyak yang mengurangi ekspor karena enggan terkena pajak tinggi," kata dia.

Lebih lagi, Susanto bilang, harga CPO dunia juga turun cukup tajam April lalu. "Dari RM 4.300 per ton menjadi RM 3.300 seton," papar dia. Penurunan itu dipicu oleh isu kenaikan produksi minyak sayur dari kedelai.

Bukan Hanya Ekspor CPO yang Anjlok

Hanya, Susanto yakin kalau ekspor CPO selama Mei akan kembali normal. Pasalnya, pemerintah sudah menurunkan pajak ekspor menjadi 15%. Selain itu, "Kapasitas penyimpanan kami kan terbatas," kilah dia.

Tapi, sebetulnya bukan hanya CPO, ekspor barang lain ke negara utama seperti Amerika, Jepang dan Singapura juga turun. Pada hal, kontribusi ketiga negara itu, kata Rustam, mencapai 36,12%

Tengok saja pernyataan Ernovian G.Ismy, Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), "Dibanding dengan kuartal pertama tahun lalu, ekspor kami ke Amerika dan Singapura cenderung turun," kata dia. Hanya, dia bilang, penurunan itu tertutup permintaan yang meledak dari Timur Tengah dan Eropa.

Jika ekspor CPO kembali normal dan produsen lain menemukan pengganti pasar, akankah neraca perdagangan kita kembali positif? Rustam mengamini hal itu. "Semua ini jangan dianggap fenomena,"tukas dia.

Pasalnya, Rustam bilang, angka impor yang melonjak juga akibat sistem pendataan baru dari kawasan berikat. Selama ini, impor kawasan berikat tidak pernah dalam data BP3.

Ya, semoga saja neraca perdagangan kita kembali imbang.

Lanjut membaca “Melongo Gara-Gara PE CPO”  »»

Murah Meriah Harganya, Laris Manis Jualannya

Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok mendorong kenaikan konsumsi susu kental manis

Kenaikan harga BBM bakal mempengaruhi konsumsi susu kental manis. Konsumsi produk susu jenis ini diperkirakan bakal meningkat. Namun, para produsen belum bisa menaikkan harga.


BBM naik tinggi, susu tak terbeli. Begitulah penggalan lirik lagu Galang Rambu Anarki yang dipopulerkan Iwan Fals dua dekade lalu. Begitulah, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bisanya bakal mendongkrak harga berbagai bahan kebutuhan lain, salah satunya susu.

Memang, konsumsi susu di Indonesia masih sangat kecil, hanya sekitar 9 liter per kapita setahun. Bandingkan dengan Malaysia yang mengkonsumsi 25,4 liter susu per kapita per tahun. Toh, cukup banyak keluarga di Indonesia yang membutuhkan susu erutama untuk memenuhi kebutuhan gizi anaknya.

Para produsen susu saat ini memang mengaku belum menaikkan harga susu. Namun kenyaaannya, harga susu di pasaran sudah mengalami kenaikan semenjak bulan April. Rata-rata kenikan harganya mencapai 10%

Nah, agar kebutuhan dari susu tetap terpenuhi, masyarakat lantas beralih membeli produk susu yang harganya lebih murah. Salah satunya, masyrakat beralih menggunakan susu kental manis (SKM) ketimbang susu bubuk maupun susu cair.

Alasannya, "Dengan kondisi ekonomi yang semakin berat, semakin banyak yang mencari produk SKM ini karena lebih terjangkau," papar Lukas Kurniawan Kepala Manajer Bisnis SKM PT Indomilk.

Susu kenatal manis ini merupakan jenis susu yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. "Porsi konsumsi susu kental manis mencapai hampir 50% dari total konsusmsi susu nasional," sebut Hendro Harijogi Poedjono, Direktur Urusan Korporat dan Sumber Daya Manusia Frisian Flag Indonesia.

Adapun porsi susu bubuk mencapai lebih dari 30% dari total konsumsi. Untuk susu segar cair, porsinya mencapai sekitar 20%.

Diminati Karena Murah

Memang, pertumbuhan pasar susu kental manis masih kalah cepat dengan susu cair. Sebagai gambaran, total pertumbuhan pasar susu di Indonesia mencapai angka 135 pertahun, dengan nilai mencapai rp 18,4 triliun.

Dari total pertumbuhan tadi, pertumbuhan penjualan SKM setiap tahunnya diperkirakan hanya mencapai sekitar 8%-10% pertahun, sementara pertumbuhan susu cair mencapai lebih dari 30% pertahun.

Walaupun begitu, dengan kenaikan berbagai harga barang kebutuhan sehari-hari, para produsen yakin penjualan susu kental manis tahun ini bakal melejit.

Saat ini, porsi penguasa pangsa pasar susu kental manis masih dipegang produk SKM Frisian Flag, yang lebih ngetop dengan sebutan Susu Bendera.

Frisian Flag menguasai sekitar 50% dari total pangsa pasar SKM di Indonesia; sedangkan SKM produksi Indomilk memegang sekitar 35% dari total pangsa pasar SKM di Indonesia.

Optimisme para produsen tersebut bukannya tidak beralasan. "Penjualan SKM dalam 10 tahun terakhir ini terus meningkat dari tahun ke tahun," cetus Category Marketing Manager For Family Nutrition PT Nestle Indonesia Sumanggar Sihombing.

Pendapat Lukas setali tiga uang, dengan pernyataan Sumanggar. "Dulu kami berasumsi dengan meningkatnya tingkat pendidikan dan pendapatan masyarakat orang akan meninggalkan SKM, tapi kenyataanya tidak," ungkap Lukas lagi.

Sayangnya, para produsen tidak mau buka-bukaan soal angka produksi serta penjualan susu kental manis mereka.

Selain itu, target pasar susu kental manis ini masih sangat luas. Ada dua kalangan yang disasar oleh produsen susu kental manis. Pertama, kalangan keluarga yang ekonominya tergolong kelas menengah kebawah. "Daya belinya relatif kecil," ujar Lukas. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan gizi dari susu, mereka mengkonsumsi SKM yang harganya lebih murah dari susu lain. Berdasarkan perhitungan Lukas, sekita 77% dari masyarakat Indonesia termasuk golongan ini.

Kedua, target pasar susu kental manis adalah pebisnis makanan dan minuman. Lazimnya parapedagang makanan atau minuman menggunakan susu kental manis untuk menambah citarasa makanan atau minuman yang dijualnya.

Dus, para produsen pun membuat khusus produk susu kental manisnya untuk kedua target pasar tersebut. Contohnya Nestle, yang memiliki dua produk SKM, yaitu SLM Carnation dan SKM Cap Nona.

Carnation adalah SKM yang diproduksi untuk penggunaan luar rumah, termasuk untuk dilpergunakan lpedagang makanan dan minuman. Sementara itu, Cap Nona merupakan SKM untuk penggunaan di rumah.

Adapun Indomilk memasarkan SKM Indomilk dan Cap Enak sebagai minuman keluarga. Untuk susu bagi penggunaan pedagang, Indomilk memasarkan SKM Kremer, SKM Tiga Sapi dan SKM Crima.

Karena optimistis dengan prospek SKM, para produsen pun berani memasang target pertumbuhan penjualan yang lumayan tinggi. Indomilk, misalnya menargetkan pertumbuhan pasar sebesar 10% sampai akhir tahun 2008

Belum Berani Naik

Omong-omong soal kenaikan harga, memang harga susu kental manis tidak ikut naik?

Ketika dihubungi KONTAN, produsen mengaku masih belum akan menaikkan harga, walaupun mereka menanggung kenaikan ongkos produksi. "Kami tidak mau konsumen merogoh saku lebih dalam lagi," sebut Brata T.Hardjosubroto, Kepala Hubungan Publik PT.Nestle Indonesia

Meski begitu, para produsen tetap tidak menutup kemungkinan adanya kanaikan harga SKM. "Kami menunggu masyarakat beradaptasi, baru kami melakukan penyesuaian," ujar Hendro.

Hanya, para produsen sepakat bahwa kenaikan harga SKM yang ditetapkan itu mungkin tidak terlalu besar. "Kami tidak bisa menaikkan harga dalam persentase yang besar, kami harus mempertahankan pangsa pasar," tukas Lukas.

Maklumlah, persaingan antar produsen SKM semakin ketat. Dus, para produsen mungkin bakal menaikkan harga SKM sekitar 2%-3% saja.



Lanjut membaca “Murah Meriah Harganya, Laris Manis Jualannya”  »»